Ratusan Orang Padati Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan

Ratusan Orang Padati Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan

Kemendikbud — Animo masyarakat terhadap Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan

yang diselenggarakan Kemendikbud sangat tinggi. Terbukti, dari target 250 peserta, peminat yang mendaftar secara daring (online) mencapai 600 orang. Pada pelaksanaan seminar di Kantor Kemendikbud, Selasa (23/5/2017), total peserta yang hadir berjumlah 314 orang dari berbagai kota.

Nur Rakhmat, guru SDN Kalibanteng Kidul 01 Semarang, Jawa Tengah, mengaku tertarik mengikuti Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan karena tema yang diangkat sesuai dengan dinamika global saat ini. Tema seminar adalah “Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas, Pendidikan sebagai Roda Penggerak Masyarakat Ekonomi ASEAN”.

“Seminar ini menjadi suatu pencerahan. Kami jadi lebih bersemangat mengimplementasikan Kurikulum 2013. Ternyata pemerintah tidak tinggal diam. Balitbang (Kemendikbud) juga selalu melakukan evaluasi, baik kurikulum maupun sarana dan prasarana. Kita gotong royong, pemerintah dan kami di lapangan, untuk Indonesia yang lebih baik,” ujar Nur Rakhmat.

Ramanira, guru di SMAN 21 Bandung, mengapresiasi penyelenggaraan Seminar Nasional Pendidikan

dan Kebudayaan. Ia tertarik mengikuti seminar ketika melihat informasinya di dunia maya. Tema seminar pun memperkuat tekadnya untuk datang ke ibukota demi menjadi peserta seminar. “Hampir sesuai dengan ekspektasi saya. Narasumbernya banyak dan luar biasa. Temanya dari kurikulum, penilaian pendidikan, itu sangat membantu dan membuka paradigma saya, khususnya sebagai guru,” tuturnya.

Saat acara pembukaan seminar, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno mengatakan, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya dalam era globalisasi memunculkan tantangan tersendiri bagi pendidikan Indonesia, karena perumusan strategi dan kebijakan pendidikan berkejaran dengan percepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan pertumbuhan ekonomi dunia.

“Untuk itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu meningkatkan strategi dan relevansi kebijakan pendidikan yang dihasilkan, seperti kebijakan yang terkait dengan kurikulum, penilaian pendidikan, kualitas guru, dan metode pembelajaran bagi pemaksimalan capaian pendidikan nasional dalam rangka penyiapan generasi muda Indonesia yang siap menghadapi tantangan global,” ujar Totok di Plasa Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, Selasa (23/5/2017).

Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan berlangsung selama satu hari,

dan dibagi menjadi tiga sesi dengan tema yang berbeda-beda. Sesi pertama mengambil tema “Mengaktualisasikan Nilai-nilai Peradaban Masa Lalu sebagai Modal Identitas Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global”. Sesi kedua bertema “Menyiapkan Guru dalam Mengantarkan Siswa Indonesia Menyongsong Tantangan Global Abad 21”. Kemudian tema yang diangkat di sesi ketiga adalah “Reformasi Kurikulum dan Penilaian Pendidikan Indonesia untuk Abad 21”.

Seminar ini diselenggarakan sebagai salah satu kegiatan dalam rangkaian Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2017, sekaligus memperingati 50 tahun berdirinya ASEAN. Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan merupakan bentuk kerja sama berbagai instansi, yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, ACDP Indonesia, ADB Indonesia, DFAT, dan Uni Eropa.

“Sebuah kolaborasi yang baik antara pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan dalam menyelenggarakan suatu seminar. Para peserta datang untuk tulus mendapatkan ilmu dan informasi, serta praktik baik dari sesama pemangku kepentingan, seperti guru, kepala sekolah, kepala dinas, dan organisasi lainnya,” ujar Kepala Subbagian Kerja Sama dan Publikasi Balitbang Kemendikbud, yang juga menjadi panitia bagian acara, Oky Adrian.

Hal senada juga diungkapkan Communication Specialist dari ACDP Indonesia, Sari Soegondo. “Sebagai kemitraan langsung yang bekerja di bawah Balitbang (Kemendikbud), senang sekali akhirnya kesempatan ini bisa terwujud karena seminar seperti ini sebenarnya memperlihatkan produk-produk hasil kerja Balitbang yang manfaatnya bisa disebarluaskan kepada publik. Seminar ini juga memungkinkan terjadinya dialog dua arah antarpemangku kepentingan dari berbagai latar belakang,” tuturnya.

Bagi masyarakat yang tidak bersempatan mengikuti Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan ini, bisa mengakses materi seminar di tautan berikut: http://litbang.kemdikbud.go.id/seminar . (Desliana Maulipaksi)

 

Baca Juga :