REVISI ANGGARAN OVERHEAD PABRIK

REVISI ANGGARAN OVERHEAD PABRIK

Seperti juga anggaran lainnya, anggaran biaya pabrikase disusun berdasarkan criteria, asumsi – asumsi dan standar – standar. Dengan demikian jika terjadi perubahan – perubahan penting dalam organisasi atau dalam metode – metode pengolahan atau produksi, maka jelas anggaran perlu dinilai kembali dan disesuaikan. Anggaran harus selalu realistis agar menjadi alat pengendalian yang efektif.

AKTIVITAS NORMAL

Umumnya terdapat tiga tingkat berdasarkan mana dapat ditetapkan standar biaya overhead, yaitu:

  1. Volume penjualan yang diharapkam untuk tahun berjalan atau periode lain pada saat mana standar akan diterapkan.
  2. Kapasitas praktis, yang menggambarkan volume produksi yang dapat dicapai oleh perusahaan bila tidak terdapat kekurangan order/pesanan.
  3. Volume penjualan normal atau rata – rata, yang didefinisikan sebagai kapasitas normal.

Apabila dipergunakan yang pertama (expected sales volume), maka semua biaya akan disesuaikan dari tahun ke tahun, sehingga sulit dilakukan berbagai perbandingan biaya. Sebagai akibatnya akan sukar melakukan berbagau perbandingan biaya tertentu. Selain itu laporan – laporan yang dihasilkan tidak dapat memberikan kepada manajer informasu yang dianggap paling berguna mengenai biaya volume (volume cost). Biaya – biaya standar bisa lebih tinggi dalam tahun – tahun dimana volumenya rendah, yaitu pada saat harga yang lebih rendah duperlukan untuk mendapatkan lebuh banyak transaksi; dan biaya – biaya standar akan lebih rendah dimana volume tinggi, pada saat kenaikan permintaan akan dianggap menuju pada harga – harga yang lebih tinggi. Kelemahan lain adalah bahwa estimasi penjualan yang digunakan sebagai dasar sering tidak akurat.

Tingkat kedua (kapasitas praktis atau practical capacity) cenderung menghasilkan biaya yang serendah – rendahnya. Ini dapat menyesatkan karena volume penjualan rata – rata tidak akan berkisar di  sekitar tingkat ini. Pada umumnya selalu terdapat varians yang tidak menguntungkan, yang biaya yang tidak diserap.

Tingkat ketiga (kapasitas normal atau normal capacity) telah didefinisikan sebagai penggunaan fasilitas produksi yang diperlukan untuk memenuhi permintaan penjualan rata – rata selama suatu masa siklus konjuktur (business cycle) atau setidak – tidaknya selama suatu periode yang cukup lama untuk dapat meratakan pengaruh – pengaruh siklis dan musiman. Basis ini memungkinkan adanya stabilisasi biaya – biaya dan turut dipertimbangkan perkembangan jangka panjang dalam penjualan. Setiap basis mempunyai keuntungan san kekurangan – kekurangannya, tetapi kapasitas normal kelihatannya merupakan basis yang paling dilehendaki dalam kondisi yang biasa

Jika perusahaan menghasilkan hanya satu jenis produk, maka kapasitas normal dapat dinyatakan dalam kuantitas produk tersebut. Tetapi jika perusahaan menghasilkan beberapa jenis produk, maka biasanya perlu untuk diperoleh suatu unit umum. Dalam hal ini jam produktif merupakan ukuran yang praktis. Jika jam produktif normal untuk semua departemen (atau bagian – bagian yang lebih kecil) telah diketahui, maka penjumlahannya akan menunjukkan jam produtif total dari perusahaan. Jumlah biaya tetap yang dibagi oleh jumlah jam produktif pada kapasitas normal akan menghasilkan standar biaya tetap per jam produktif.

ALOKASI BIAYA PABRIKASE

Faktor lain yang akan dipertimbangkan adalah bagaimana mengalokasikan atau mendistribusikan biaya – biaya dari fungsi yang tidak langsung atau jasa/pelayanan terhadap sasaran biaya, produk, atau proses akhir. Oleh karena biaya tidak langsung departemen (indirect departemental cost) merupakan suatu bagian yang besar dari biaya overhead, maka pemilihan basis atau basis – basis yang layak merupakan hal yang penting dalam hubungannya dengan penetapan biaya, pengendalian biaya dan penetapan harga jual

Merupakan hal yang pokok bahwa perlu ada hubungan yang proporsional di antara basis – basis yang dipergunakan untuk alokasi dengan biaya – biaya tidak langsung. Dengan perkataan lain pengalokasian atau pendistribusian biaya yang dihasilkan mesti merupakan suatu ukuran yang wajar dari manfaat yang diterima atau dari jasa – jasa yang diberikan. Pada umumnya terdapat suatu basis yang nyata atau logid untuk mengalokasikan berbagai jenis biaya, sedangkan pada kesempatan – lesempatan lain mungkin perlu digunakan suatu basis yang sebarang (arbitrary). Biaya penyusutan, asuransi, sewa, dan biaya bangunan lain dapat dialokasikan berdasarkan meter persegi. Biaya – biaya dari fungsi kepegawaian dapat dialokasikan berdasarkan berdasarkan jumlah upah. Sebaliknya biaya – biaya yang berhubungan dengan akuntansi pabrik, atau perencanaan dan penjadwalan dapat

didistribusikan secara sebarang berdasarkan berbagai basis menyeluruh seperti jam total atau biya total.

Dapat dimengerti bahwa metode penerapan biaya overhead sangat penting jika manajemen ingin memperoleh harga pokok produk, penilaian persediaan, dan data penetapan harga yang cermat. Beberapa metode pengalokasian yang umum dipergunakan adalah sebagai berikut:

  1. Jam mesin
  2. Jam kerja langsung
  3. Jumlah upah langsung
  4. Jumlah bahan langsung
  5. Jumlah biaya utama (prime costs)
  6. Banyaknya unit produksi

Ditinjau dari segi pandangan praktis adalah lebih disukai suatu metode sederhana yang dapat duperoleh dengan mudah dan cepat disertai tingkat kecermatan tertentu. Apabila biaya – biaya itu cukup penting/besar, maka dapat dipergunakan basis – basis yang berbeda untuk mengalokasikan biaya tetap dan biaya variable. Biaya – biaya tetap dapat dialokasikan berdasarkan suatu basis aktivitas normal atau standar, sedangkan biaya – biaya variable akan didistribusikan berdasarkan aktivitas yang sebenarnya.

Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk memperoleh biaya yang paling baik. Dengan demikian tugas controller adalah metode yang dapat mencerminkan biaya dengan paling cermat. Telah dikemukakan sebelumnya, bahwa metode untuk mengalokasikan biaya departemen jasa/pelayanan mempunyai pengaruh langsung pada pengendalian biaya. Ini berhubungan apakah dengan biaya sebenarnya atau dengan biaya standar yang didistribusikan kepada departemen – departemen yang menggunakan jasa. Ditinjau dari segi pengendalian, kepala departemen jasa/pelayanan harus bertanggung jawab atas setiap biaya yang melebihi anggarannya. Departemen – departemen yang menggunakan jasa – jasa tersebut harus dibebani menurut dasar tariff standar untuk jasa – jasa yang sesungguhnya dipergunakan, tentunya dengan membedakan biaya tetap dan biaya variable. Dalam hal ini departemen pemakai dapat diminta bertanggung jawab penuh atas biaya – biaya jasa yang berlebihan pada departemen tersebut, karena ketidakefisienan atau pemborosan pada departemen jasa/pelayanan yang dibebankan terhadap departemen produktif. Ditinjau dari segi pengendalian, pengawasan departemen jasa bertanggungjawab untuk menjalankan

departemen pemakai secara efisien pada tingkat jasa apapun yang diperlukan oleh departemen  – departemen pemakai dan sebagaimana diukur dengan flexible budget yang diterapkan pada

tingkat kegiatan yang bersangkutan. Sebaliknya para atasan departemen – departemen produktif harus bertanggung jawab untuk kuantitas jasa yang dikonsumsi.

Dalam penetapan harga pokok adalah perlu untuk mengalokasikan varians yang timbul pada departemen – departemen jasa mungkin sebanding dengan biaya – biaya standar yang telah didistribusikan. Meskipun ini dapat dilakukan untuk tujuan – tujuan manajemen tertinggi, tetepi penyimpangan tidak boleh tercermin dalam laporan – laporan yang dipergunakan untuk tujuan – tujuan pengendalian.

Sumber : https://www.anythingbutipod.com/